Jumat, 19 Juni 2009

Tokoh Tasawuf Hasan Al-Basri

A. Latar Belakang

Sejarah historis ajaran tasawuf mengalami perkembangan yang sangat pesat, berawal dari upaya meniru pola kehidupan Rosulluhan saw, baik sebelum menjadi Nabi dan terutama setelah beliau bertugas menjadi Nabi dan Rosul, perilaku dan Nabi Muhammadlah yang dijadikan suri tauladan utama bagi para sahabat yang kemudian berkembang menjadi doktrin yang bersifat konseptual. Tasawuf pada masa Rosulluhan SAW adalah sifat umum yang terdapat pada hampir seluruh sahabt – sahabat Nabi tanpa terkecuali. Menurut catatan sejarah dari sahabat Nabi yang pertama sekali melembagakan tasawuf dengan cara mendirikan madrasah tasawuf adalah Huzaifah bin Al-Yamani[1], sedangkan Imam Sufi yang pertama dalam sejarah Islam adalah Hasan Al-Basri ( 21-110 H ) seorang ulama tabi'in, murid pertama dari Huzaifah bin Al-Yamani, beliau dianggap tokoh sentral dan yang paling pertama meletakkan dasar metodologi ilmu tasawuf. Hasan Al-Basri adalah orang yang pertama mempraktekkan, berbicara menguraikan maksud tasawuf sebagai pembuka jalan generasi berikutnya.

  1. Biografi Hasan Al-Basri

Nama asli dari Hasan Al-Basri adalah Abu Sa'id Al Hasan bin Yasar. Baliau dilahirkan oleh seorang perempuan yang bernama Khoiroh, dan beliau adalah anak dari Yasaar, budak Zaid bin Tsabit[2], tepatnya pada tahun 21 H di kota Madinah setahun setelah perang shiffin, ada sumber lain yang menyatakan bahwa beliau lahir dua tahun sebelum berakhirnya masa pemerintahan Khalifah Umar bin Al- Khattab[3]. Khoiroh adalah bekas pembantu dari Ummu Salamah yang bernama asli Hindi Binti Suhail yaitu istri Rosullullah SAW. Sejak kecil Hasan Al-Basri sudah dalam naungan Ummu Salamah. Bahkan ketika ibunya menghabiskan masa nifasnya Ummu Salamah meminta untuk tinggal di rumahnya. Dan juga nama Hasan Al-Basri itupun pemberian dari Ummu Salamah. Ummu Salamahpun terkenal dengan seorang puteri Arab yang sempurna akhlaknya serta teguh pendiriannya. Para ahli sejarah menguraikan bahwa Ummu Salamah paling luas pengetahuannya diantara para istri-istri Rosullah SAW lainnya. Seiring semakin akrabnya hubungan Hasan Al-Basri dengan keluarga Nabi, berkesempatan untuk bersuri tauladan kepada keluarga Rosullulahdan menimba ilmu bersama sahabat di masjid Nabawy.

Dan ketika menginjak 14 tahun, Hasan Al-Basri pindah ke kota basrah ( Iraq ). Disinilah kemudian beliau mulai dengan sebutan Hasan Al-Basri. Kota Basarha terkenal dengan kota ilmu dalam daulah Islamiyyah. Banyak dari kalangan sahabat dan tabi'in yang singgah di kota ini. Banyak orang berdatangan untuk menimba ilmu kepada beliau. Karena perkataan serta nasehat beliau dapat menggugah hati sang pendengar.

Kemudian pada tahun 110 H, tepatnya pada malam jum'at diawal bulan Rajab beliau kembali ke rahmatullah pada usianya yang ke 80 tahun[4]. Banyak dari penduduk Basrah yang mengantarkan sampai ke pemakaman beliau. Mereka merasa sedih serta kehilangan ulama besar, yang berbudi tinggi, soleh serta fasih lidahnya.

II. Pemikiran Tasawufnya

Dalam pengenalan Tasawuf beliau mendapatkan ajaran tasawuf dari Huzaifah bin Al-Yaman[5], sehinggan ajaran itu melekat pada dirinay sikap maupun perilaku pada kehidupan sehari-hari. Dan kemudian beliau dikenal sebagai Ulama Sufi dan juga Zuhu[6]d. Dengan gigih dan gayanya yang retorik, beliau mampu membawa kaum muslim pada garis agama dan kemudian muncullah kehidupan sufistik.

Dasar pendirian yang paling utama adalah Zuhud terhadap kehidupan dunia, sehingga ia menolak segala kesenangan dan kenikmatan dunia. Hasan Al Basri mangumpamakna dunia ini seperti ular, terasa mulus kalau disentuh tangan, tetapi racunnya dapat mematikan. Oleh sebab itu, dunia ini harus dijauhi dan kemegahan serta kenikmatan dunia harus ditolak. Karena dunia bisa membuat kita berpaling dari kebenaran dan membuat kita selalu memikirkannya.

Prinsip kedua ajaran Hasan Al basri adalah Khauf dan Raja', dengan pengertian merasa takut kepada siksa Allah karena berbuat dosa dan sering melalaikan perintah Allah. Merasa kekurangan dirinya dalam mengabdi kepada Allah, timbullah rasa was was dan takut, khawatir mendapat murka dari Allah. Dengan adanya rasa takut itu pula menjadi motivasi tersendiri bagi seseorang untuk mempertinggi kualitas dan kadar pengabdian kepada Allah dan sikap daja' ini adalah mengharap akan ampunan Allah dan karunia-NYA. Oleh karena itu prinsip-prinsip ajaran ini adalah mengandung sikap kesiapan untuk melakukan muhasabah agar selalu mamikirkan kehidupan yang hakiki dan abadi.

III. Corak Pemikiran Tasawufnya

Hasan Al Basri adalah seorang sufi angkatan tabi'in, seorang yang sangat takwa, wara' dan zuhud pada kehidupan dunia yang mana dikala masanya banyak dari kalangan masyarakt khususnya dari kalangan atas yang hidup berfoya-foya. Yang mana kezuhudan itu masih melekat ajarannya dari para ulama-ulama lainnya pada masa sahabat. Yang mana ajran beliau masih kental ataupun berdasarkan Al Qur'an dan Hadist nabi, untuk itu beliau termasuk golongan Tasawuf Sunni.

IV. Karya-karyanya

Banyak dari buku atau kitab para ulama-ulama yang membahas tentang kebajikan, kesuhudan serta berbagai hal yang mengarah kepada kebesaran nama Hasan Al Basri. Yang mana berkat perjuangan beliau berdampak kepada perubahan masyarakat Islam kepada suatu hal yang lebih baik. Dan juga menjadi tongkat estafet bagi ulam-ulama setelah beliau dalm menerapkan mendefinisikan sehingga sebagai pembuka jalan generasi berikutnya. Dan jarang dari buku atau kitab para ulam-ulam yang membahas tentang karya-karya beliau. Karena keterbatasan kemampuan, penulis belum bisa memaprkan karya-karya beliau tapi ada ajaran beliau yang menjadi pembicaraan kaum sufi adalah:

“ Anak Adam!

Dirimu, diriku! Dirimu hanya satu,

Kalau ia binasa, binasalah engkau.

Dan orang yang telah selamat tak dapat menolongmu.

Tiap-tiap nikmat yang bukan surga, adalah hina.

Dan tiap-tiap bencana yang bukan neraka adalah mudah”.[7]

A. KESIMPULAN

Hasan Al-Basri adalah Abu Sa'id Al Hasan bin Yasar. Baliau dilahirkan oleh seorang perempuan yang bernama Khoiroh, dan beliau adalah anak dari Yasaar, budak Zaid bin Tsabit pada tahun 21 H di kota Madinah. Dan ketika menginjak 14 tahun beliau pindah ke kota Basrah (Iraq). Tepat pada malam Juan`at di awal bulan Rajab sekitar tahun 110 H, beliau kembali ke rahmatulloh pada usia yang ke 80 tahun. Dasar pendirian yang paling utama hádala Zuhud terhadap kehidupan dunia. Prinsip ajarannya hádala khauf dan raja`, dengan pengertian merasa takut lepada siksa Allahkarena berbuat dosa dan sering melalaikan perintah Allah. Dan beliau termasuk golongan sunni, karena berpondasi ataupun berdasarkan Al-Quran dan Hadist Nabi. Untuk karya-karya beliau yang berbentuk buku penulis belum bisa memaparkan akan tetapi banyak dari kitab ulama` yang membahas tentang kebijakkan, kezuhudan, serta berbagai hal yang mana mengarah lepada kebesaran nama beliau.

Dari sini penulis memetik pelajaran bahwasanya janganlah terlena dengan kenikmatan dunia yang kenikmatannya semu dan sementara yang mana menjadikan kita terlena. Kita harus banyak berbuat untuk kebaikan dan kemaslakhatan bersama , karena sebaik-baiknya orang hádala yang bermanfaat bagi yang lain. “Biarkan orang gembira dan kita menanggis ketika kita lahir di dunia, akan tetapi buat orng menanggis dan kita gembira kitika kita meninggal dunia karena aml-amal sholeh kita.

REFERENSI

1. Drs. H. A. Mustofa. Akhlak Tasawuf. Pustaka Setia Bandung. cet IV

2. Dr. Rosihon Anwar, M.Ag, Dr. Mukhtar Solihin, M.Ag, Kamus Tasawuf. Remaja Rosdakarya, Bandung 2002

3. Dr. Rosihon Anwar, Dr. Mukhtar Solihin, M.Ag. Ilmu Tasawuf. Pustaka Setia. Bandung 2000

4. Drs. H. AbuddinNata, M.A. Akhlak Tasawuf. PT. Raja Granfindo Persaja. Jakarta 1997. cet II

5. Hamka. Tasawuf pengembangan dan pemurniannya. PT. Pustaka Panjimas. Jakarta 1983

6. Isa, Ahmadi. Tokoh-tokoh sufi Tauladan Kehidupannya yang Saleh. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta 2000

  1. Wisdom Of Hasan Al-Basri Nasehat-Nasehat Penerang Hati. PT Serambi Ilmu Semesta Jakarta 2008
  2. WaLLohu ta`a a`lamtohaachmad. wordpress.com
  3. www. Sunnah.org/history/Scholars/hasan al basri
  4. darisrajih. Wordpress.com



[1] Drs. H. A. Mustofa. Akhlak Tasawuf. Pustaka Setia Bandung. 1997 cet I hal 214

[2] pannerans. Multiply. com

[3] Wisdom Of Hasan Al-Basri Nasehat-Nasehat Penerang Hati. PT Serambi Ilmu Semesta Jakarta 2008

[4] max166.blogspot.com

[5] Drs. H. A. Mustofa. Akhlak Tasawuf. Pustaka Setia Bandung. cet IV hal 214

[6] Untuk keterangan lebih lanjut lihat Dr. Rosihon Anwar, M.Ag, Dr. Mukhtar Solihin, M.Ag, Kamus Tasawuf. Remaja Rosdakarya, Bandung 2002. hal 270-271

[7] Ibid hal 76

0 komentar: